Tak cuma film, lagu campursari pun juga punya sekuel. Adalah Dhalang Poer yang menyanyikan lagu Rani yang merupakan episode lanjut dari Kreteg Gunengan.
Jika dalam Kreteg Gunengan, sang pria patah hati karena Rani, sang kekasih, menikah dengan pria lain, maka dalam Rani, dikisahkan sekian tahun kemudian, rumah tangga Rani putus di tengah jalan. Ia kemudian mengirim surat kepada mantan kekasihnya, apakah masih ada cinta dihatinya dan apakah ia masih mau menerima dirinya.
Namun rasa pedih yang pernah digoreskan Rani membuatnya ragu untuk kembali menjalin kasih dengan wanita yang pernah dicintainya itu. (mp2)
Lagu campursari berjudul Kreteg Gunengan ini dinyanyikan oleh Dhalang Poer, berkisah tentang seorang pria desa yang berpisah dengan sang kekasih bernama Rani karena harus bekerja di kota. Sambil menangis dalam pelukannya, Rani berjanji akan tetap setia kepadanya. Mereka berpisah di kreteg (jembatan) Gunengan yang dibesut jadi judul lagu ini. Entah di mana Gunengan itu.
Sayangnya, belum 1 tahun bekerja ia bertemu teman satu desanya. Temannya mengabarkan, bahwa Rani yang dicintainya telah tergoda pria lain. Dengan hati pilu ia kembali ke desanya dan mendapati kenyataan pahit: sebuah persiapan acara pernikahan untuk sang kekasih esok paginya.
Tak ada lain yang bisa dilakukannya selain meratapi rasa sakit hatinya akibat pengkhianatan dan ingkar janjinya Rani, seperti dilantunkan dalam bait-bait terakhir lagu ini: "Oh Rani, jebul kowe ngapusi, oh atiku lara ginawa mati, ... oh Rani, jebul kowe mblenjani, oh atiku lara ginawa mati ...(Oh Rani, ternyata kau berdusta, oh sakit hatiku terbawa mati, ... oh Rani, ternyata kau ingkar janji, oh sakit hatiku terbawa mati ...).
Ini adalah lagu campursari favorit MP2, dan ... dikhianati memang menyakitkan.(mp2)
Campursari adalah musik tradisional khas Jawa. Seiring dengan perkembangan zaman, campursari pun mengalami berbagai perubahan, baik dari segi instrumen pengiring, irama maupun lirik dan tema lagunya.
"Istilah campursari dalam dunia musik nasional Indonesia mengacu pada campuran (crossover) beberapa genre musik kontemporer Indonesia. Nama campursari diambil dari bahasa Jawa yang sebenarnya bersifat umum. Musik campursari di wilayah Jawa bagian tengah hingga timur khususnya terkait dengan modifikasi alat-alat musik gamelan, sehingga dapat dikombinasi dengan instrumen musik barat, atau sebaliknya. Dalam kenyataannya, instrumen-instrumen ‘asing’ ini ‘tunduk’ pada pakem musik yang disukai masyarakat setempat: langgam Jawa dan gending.
Campursari pertama kali dipopulerkan oleh Manthous dengan memasukkan keyboard ke dalam orkestrasi gamelan pada sekitar akhir dekade 1980-an melalui kelompok gamelan “Maju Lancar”. Kemudian secara pesat masuk unsur-unsur baru seperti langgam Jawa (keroncong) serta akhirnya dangdut.
Pada dekade 2000-an telah dikenal bentuk-bentuk campursari yang merupakan campuran gamelan dan keroncong (misalnya Kena Goda dari Nurhana), campuran gamelan dan dangdut, serta campuran keroncong dan dangdut (congdut, populer dari lagu-lagu Didi Kempot).
Meskipun perkembangan campursari banyak dikritik oleh para pendukung kemurnian aliran-aliran musik ini, semua pihak sepakat bahwa campursari merevitalisasi musik-musik tradisional di wilayah tanah Jawa."
Dari segi lirik, campursari mempunyai beragam warna, mulai dari jenaka, kepedihan hati, maupun pesan moral berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan tak sedikit yang nyerempet-nyerempet porno atau membuat pendengar mengasosiasikan porno.
Saya biasa menikmati alunan musik campursari melalui radio daripada memutarnya di komputer, karena koleksinya lebih beragam.
Berikut ini saya tampilkan salah satu lirik lagu campursari (berikut terjemahan dalam bahasa Indonesia) yang menurut saya menarik. Ada pesan moral di situ. Judulnya Ngamen 2. Ada beberapa penyanyi yang mendendangkan lagu ini, tapi saya pilih yang dinyanyikan oleh Eny Sagita.
Ngamen 2
Mak iki anakmu prawan (Ibu ini anak gadismu)
Wiwit cilik biyen ono ing perantauan (Sejak kecil hidup di perantauan)
Melu ngewangi ning kantin sekolahan (Ikut membantu di kantin sekolah)
Telung sasi mak aku urung bayaran (Tiga bulan bu aku belum diberi upah)